Tabumania, stigma terhadap individu dengan gangguan kesehatan mental maupun individu yang memiliki keinginan bunuh diri masih tinggi. Inilah yang mendorong individu tersebut untuk ragu-ragu untuk mencari bantuan. Padahal tidak apa-apa mencari bantuan, tidak perlu malu.

Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa, I Wayan Eka Sunya Antara. Bali Bersama Bisa adalah yayasan yang mendirikan Love Inside Suicide Awareness (LISA) helpline. LISA helpline adalah layanan pencegahan bunuh diri dan konsultasi kesehatan mental yang berlokasi di Bali. Lebih lanjut, pria yang biasa disapa dengan Bli Bimbim ini menjelaskan stigma tentang kesehatan mental di Indonesia masih tabu. Seringkali orang dengan gangguan mental memperoleh stigma kurang ibadah, kurang bersyukur, mental lemah, diguna-guna, bahkan dinilai sebagai aib keluarga. “Ketika seseorang ingin mengetahui atau menjelaskan tentang kesehatan mentalnya dengan bilang kondisinya ke orang lain kemudian mendapatkan komentar yang kuat dong, gitu aja nyerah. Orang pun jadi malu untuk cerita atau mencari pertolongan. Inilah mengapa tingkat bunuh diri di Indonesia tinggi.”jelasnya.

Bli Bimbim juga mengatakan selama masa pandemi COVID-19 ini masyarakat tidak hanya membutuhkan makan atau materi saja, tetapi juga kesehatan mental atau jiwa mereka. Dan seperti yang dikutip Kumparan.com dari dr. I Gusti Rai Putra Wiguna Sp.KJ, Pembina Yayasan Bali Bersama Bisa, menurut WHO selama masa pandemi COVID-19, setidaknya 93 persen layanan kesehatan mental di seluruh dunia berhenti. Sementara kebutuhan masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan mental terus meningkat. dr. Rai menjelaskan sebelum masa pandemi COVID-19, sebanyak 6 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional. Namun, dari jumlah penduduk yang mengalami gangguan mental tersebut, yang ditangani hanya sebanyak 9 persen.

LISA helpline hadir untuk mengisi celah tersebut. Ketika ada individu yang membutuhkan pertolongan mengenai kesehatan mentalnya, secara 24 jam LISA helpline akan hadir. “Klien yang memerlukan bantuan LISA, ketika mereka menghubungi LISA akan diterima oleh tenaga volunteer yang sudah dilatih. Klien yang emergency akan diamankan dulu kalau memerlukan evakuasi, jika tidak dalam keadaan emergency dan bisa ditenangkan akan jadwalkan untuk konseling dengan psikolog atau psikiater yang kita punya, gratis. Sedangkan klien yang berada di luar Bali akan dijadwalkan via zoom atau mengakses layanan konseling terdekat di kota mereka, akan kita bantu dengan psikolog atau psikiater lokasi terdekat.”kata Bli Bimbim saat menjelaskan sistem mekanisme menghubungi LISA helpline. Bli Bimbim juga mengatakan ke depan akan bekerja sama dengan layanan 112 agar bisa segera memberikan bantuan kepada klien yang emergency. Selain itu, saat ini LISA helpline masih bekerja sama dengan psikolog atau psikiater di Bali. Namun, ke depannya akan berjejaring dengan perkumpulan psikolog dan psikiater di Indonesia.

LISA helpline merupakan sebuah project dari Yayasan Bali Bersama Bisa. Yayasan Bali Bersama Bisa adalah kolaborasi dari 11 Yayasan antara lain Yayasan Teman Baik Nusantara, Movement of Recovery, GSHR Udayana, Teratai Foundation, Yayasan Spirit Paramacitta, Love and Strong Women, KPSI Simpul Bali, Yayasan Gaya Dewata, Rumah Bisabilitas, Komunitas Bipolar Bali dan Crisis Kitchen Bali. “Pemberian nama LISA bermula dari salah satu kisah rekan ekspatriat yang meninggal karena bunuh diri.”kata Bli Bimbim. Bli Bimbim menjelaskan program LISA adalah sebuah program dukungan kesehatan jiwa dan psikososial yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Program yang diberikan tidak memandang latar belakang suku, agama, ras, pandangan politik, orientasi seksual, identitas gender ataupun kondisi disabilitas individu. Program LISA merupakan program yang ditujukan untuk memberikan dukungan psikologis pertama bagi orang yang memiliki pemikiran dan intensi perilaku bunuh diri. Meskipun berada di Bali, LISA helpline bisa diakses siapapun, darimanapun, termasuk warga negara asing. Sejak diluncurkan pertama kali pada 6 April lalu, LISA helpline telah menangani 35 klien dengan 18 klien dari Bali dan 17 klien dari luar Bali, yaitu Semarang, Pontianak, Yogyakarta, Karawang, Jakarta, Surakarta, Tanjung Pinang, Makasar, Manado dan Sumedang. Saat ini layanan yang tersedia adalah layanan berbahasa Indonesia. Ke depan akan tersedia juga layanan berbahasa Inggris. “Saat ini masih menunggu legalisasi layanan berbahasa Inggris.” tambah Bli Bimbim. Ke depan, Bli Bimbim berharap LISA helpline bisa bekerja sama dengan lebih banyak komunitas maupun perkumpulan kesehatan mental sehingga semakin mempermudah masyarakat mengakses layanan kesehatan jiwa, agar semakin banyak masyarakat yang terbantu. Untuk mengakses layanan LISA helpline bisa melalui layanan pesan WhatsApp maupun telepon di 08113855472 atau surel lisahelpline@gmail.com.

Tabumania, meskipun stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa dan bunuh diri masih tinggi. Namun, bukan berarti kita tidak boleh mencari bantuan. Mengutamakan kesehatan mental kita sangat penting dilakukan. Kita tidak perlu malu dan ragu-ragu mencari pertolongan. Masih banyak layanan kesehatan jiwa yang inklusif. Layanan kesehatan jiwa yang ditujukan bagi siapa saja yang memerlukan, tanpa melihat latar belakang apapun. Salah satunya adalah LISA helpline.

Masa pandemi yang berkepanjangan telah menyebabkan peningkatan jumlah orang yang mengalami depresi. Untuk mencegah mereka memilih jalan bunuh diri, kini di Bali hadir layanan helpline atau saluran bantuan pencegahan bunuh diri.

“Layanan ini bisa diakses secara gratis selama 24 jam oleh siapapun.,” ungkap I Gusti Rai Putra Wiguna, Pembina Yayasan Bali Bersama Bisa yang menginisiasi layanan ini, Jumat (9/4/2021)

Nama layananannya adalah LISA singkatan dari Love Inside Suicide Awarness yang tersedia pada nomor 0811385 5472. Nantinya pelayanan itu akan dihubungkan dengan nomor layanan darurat Pemerintah Kota Denpasar 112 untuk memberikan pertolongan pertama bagi orang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri.

LISA diinisiasi oleh Jaringan Bali Bersama Bisa, dimana terdiri atas 11 LSM di Bali, diantaranya yakni Komunitas Teman Baik, Movement of Recovery Project, Malamadre Foundation, Yayasan Spirit Paramacitta, Love and Strong Woman, KOSTRA Bali, GSHR Udayana, Yayasan Gaya Dewata, Crisis Kitchen Bali, Komunitas Bipolar Bali, dan Rumah Berdaya KPSI Bali.

“Pemilihan nama LISA terinspirasi dari partner Bali Bersama Bisa, seorang expatriat yang lari ke Bali dan meninggal karena bunuh diri,” jelasnya.
Rai menjelaskan, pandemi COVID-19 tak hanya menimbulkan dampak ekonomi, tapi juga kesehatan mental. “Kami ingin membangun kesadaran bahwa kesehatan mental sangat penting dan memang diperlukan,” tambahnya.

Isu kesehatan mental yang ia dan kawan-kawan lainnya perjuangkan merupakan hal penting yang tidak bisa dilepaskan dari berbagai dimensi kehidupan. “Menurut data WHO di masa pandemi COVID-19, sebanyak 93 % layanan kesehatan mental di seluruh dunia terhenti , sementara kebutuhan masyarakat untuk mendapat layanan tersebut terus meningkat,” ungkapnya.

Di Indonesia sebelum pandemi COVID-19 jelas Rai, 6 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional. Namun yang ditangani dari jumlah itu hanya sebanyak 9 persen. Padahal banyak orang yang tidak bekerja dan produktivitasnya buruk, seharusnya mendapatkan penanganan.

“Artinya remaja, katakanlah gangguan cemas dan gangguan depresi untuk usia di atas 18 tahun itu 6 persen,” jelasnya.

Beberapa gejala depresi yang biasanya timbul, di antaranya hilang minat dan kegembiraan, energi yang menurun sehingga cepat lelah dan mudah larut dalam kesedihan. Ditambah yang lainnya, misalkan merasa masa depan suram, perubahan pola makan, dan gangguan tidur. Angka bunuh diri terbesar dilakukan saat yang bersangkutan mengalami gangguan tidur.

Sementara itu, bedasarkan data yang dihimpun oleh Pakar kesehatan jiwa di Bali, Prof dr Luh Ketut Suryani, mencatat ada 65 kasus bunuh diri yang terjadi di Bali sepanjang tahun 2020. Menurut Suryani, bunuh diri yang terjadi dilatari oleh beragam latar belakang. Mulai dari tekanan ekonomi, penyakit yang tak kunjung sembuh, masalah asmara, hingga terbelit kasus korupsi.

Program LISA sendiri hadir guna menjembatani kebutuhan layanan kesehatan mental masyarakat yang inklusif. Layanan ini tersedia dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

“Setiap telepon yang masuk akan kami rekam, mereka yang butuh layanan kami datangi dan lakukan pendampingan. Kami mempunyai 35 relawan termasuk di dalamnya profesional kesehatan jiwa yang siap-sedia membantu masyarakat baik lokal maupun asing,” jelas Rai Putra Wiguna

Nantinya pihaknya akan bekerja sama dengan perhimpunan-perhimpunan psikolog dan psikiater yang ada di Bali untuk bersama-sama memperkuat layanan kesehatan mental bagi masyarakat.

Kanal Bali

Comments are disabled.